Selasa, 24 November 2009

selasa 24-09-2009

hari nie nyantai banget....

gag da yang kudu diribetin...
aseEeg....
tapi malah inget ma dy...
>_<

Sabtu, 21 November 2009

ikatan ion

Ikatan Ion
Kata Kunci: Ikatan Ion, Pembentukan Ikatan Ion, Susunan Senyawa Ion
Ditulis oleh Ratna dkk pada 15-04-2009
Ikatan Ion
Ikatan ion adalah ikatan yang terbentuk akibat gaya tarik listrik (gaya Coulomb) antara ion yang berbeda. Ikatan ion juga dikenal sebagai ikatan elektrovalen.
Pembentukan Ikatan Ion
Ikatan antara natrium dan klorin dalam narium klorida terjadi karena adanya serah terima elektron. Natrium merupakan logam dengan reaktivitas tinggi karena mudah melepas elektron dengan energi ionisasi rendah sedangkan klorin merupakan nonlogam dengan afinitas atau daya penagkapan elektron yang tinggi. Apabila terjadi reaksi antara natrium dan klorin maka atom klorin akan menarik satu elektron natrium. Akibatnya natrium menjadi ion positif dan klorin menjadi ion negatif. Adanya ion positif dan negatif memungkinkan terjadinya gaya tarik antara atom sehingga terbentuk natrium klorida. Pembentukan natrium klorida dapat digambarkan menggunakan penulisan Lewis sebagai berikut:

Pembentukan NaCl

Pembentukan NaCl dengan lambang Lewis
Ikatan ion hanya dapat tebentuk apabila unsur-unsur yang bereaksi mempunyai perbedaan daya tarik electron (keeelektronegatifan) cukup besar. Perbedaan keelektronegati-fan yang besar ini memungkinkan terjadinya serah-terima elektron. Senyawa biner logam alkali dengan golongan halogen semuanya bersifat ionik. Senyawa logam alkali tanah juga bersifat ionik, kecuali untuk beberapa senyawa yang terbentuk dari berilium.
Susunan Senyawa Ion
Aturan oktet menjelaskan bahwa dalam pembentukan natrium klorida, natrium akan melepas satu elektron sedangkan klorin akan menangkap satu elektron. Sehingga terlihat bahwa satu atom klorin membutuhkan satu atom natrium. Dalam struktur senyawa ion natrium klorida, ion positif natrium (Na+) tidak hanya berikatan dengan satu ion negatif klorin (Cl-) tetapi satu ion Na+ dikelilingi oleh 6 ion Cl- demikian juga sebaliknya. Struktur tiga dimensi natrium klorida dapat digunakan untuk menjelaskan susunan senyawa ion.

Struktur kristal kubus NaCl

laporan termokimia

A. Judul : Termokimia

B. Tujuan : - Membuktikan bahwa setiap reaksi kimia disertai
penyerapan atau pelepasan kalor
- Menghitung perubahan kalor yang terjadi dalam
Berbagai reaksi kimia


C. Kajian Teori :
Setiap Reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan energi dalam bentuk kalor, yaitu dengan cara melepaskan sejumlah kalor ( reaksi eksoterm ) atau menyerap kalor ( reaksi endoterm ). Termokimia mempelajari perubahan kalor dalam suatu reaksi kimia. Jika suatu system reaksi diberikan sejumlah energi dalam bentuk kalor (q), maka system akan melakukan kerja yang maksimum ( W = p . ΔV ). Setelah kerja sisitem menyimpan sejumlah energi yang disebut energi dalam ( U ). Secara matematis, perubahan energi dalam dirumuskan sebagai berikut :

Δ U = Δ q ± Δ V

Jumlah kalor dari hasil reaksi kimia dapat diukur dengan suatu alat yang disebut calorimeter. Jumlah kalor yang diserap calorimeter untuk menaikkan suhu satu derajat disebut tetapan calorimeter, satuannya JK-¹.

D. Rancangan Percobaan :

1. Alat dan bahan
- Kalorimeter
- Pipet Ukur
- Gelas kimia 100 ml
- Spatula
- Thermometer
- CuSO4 0,5 M
- NaOH 0,5 M
- HCl 0,5 M
- Serbuk Zn

2. Langkah – Langkah percobaan

1. Penentuan Tetapan calorimeter
a. Masukkan 25 ml air kedalam calorimeter dengan pipet ukur. Catat temperaturnya ( T1 )
b. Panaskan 25 ml air dalam gelas kimia sampai kenaikan suhu kira-kira 10º C dari suhu kamar. Catat temperaturnya ( T2 ). Campurkan air panas ini kedalam calorimeter yang berisi air dingin. Kocok dan catat temperature maksimum yang konstan ( ΔT ).
c. Hitung tetapan calorimeter

2. Penentuan kalor reaksi Zn – CuSO4
a. Masukkan 25 ml CuSO4 1 M kedalam calorimeter. Catat temperaturnya ( T3 )
b. Timbang 0,5 gram serbuk Zn ( Ar Zn = 65,4 )
c. Masukkan serbuk Zn kedalam calorimeter yang berisi larutan CuSO4. catat temperature maksimum yang konstan ( T4 )
d. Hitung kalor penetralan yang terukur.

3. Penentuan kalor penetralan HCl – NaOH
a. Masukkan 25 ml HCl 1 M kedalam calorimeter. Catat temperaturnya ( T5 )
b. Ukur 25 ml NaOH 1 M dan atur temperaturnya sedemikian hingga sama dengan temperature larutan HCl.
c. Campurkan larutan NaOH ini dengan larutan HCl dalam calorimeter. Catat temperature campuran yang maksimum dan konstan ( T6 )
d. Hitung kalor penetralan yang terukur.

Gambar percobaan :





























- Perhitungan :
1. Tetapan calorimeter
a. Kalor yang diserap air dingin, q1
q1 = massa air dingin X kalor jenis air X kenaikan suhu

b. Kalor yang diserap air panas, q2
q2 = massa air panas X kalor jenis air X penurunan suhu

c. Kalor yang diserap kalorimeter, q3
q3 = q2 – q1

d. Tetapan calorimeter , K

K = Joule / K

Catatan :
Massa jenis air dianggap konstan 1,0 gr / mL
Kalor jenis air dianggap konstan 4,2 J / gr K

2. Kalor reaksi Zn – CuSO4
a. Kalor yang diserap calorimeter , q4
q4 = k X ( T4 – T3 )

b. Kalor yang diserap larutan , q5
q5 = massa larutan X kalor jenis larutan X kenaikan suhu

c. Kalor yang dihasilkan sistem reaksi , q6
q6 = q5 + q4

d. Kalor reaksi yang dihasilkan dalam satu mol larutan

ΔHr = Joule / mol

3. Kalor Penetralan HCl – NaOH
a. Kalor yang diserap larutan , q7
q7 = massa larutan X kalor jenis larutan X kenaikan suhu

b. Kalor yang diserap calorimeter, q8
q8 = k X ( T6 – T5 )

c. Kalor yang dihasilkan sistem reaksi, q9
q9 = q7 + q8

d. Kalor penetralan yang dihasilkan dalam satu mol larutan
ΔHn = Joule / mol


Catatan :
1) Dianggap kenaikan temperature ( T6 – T5 ) pada reaksi ini menghasilkan 0,100 mL NaOH. Volume larutan adalah 100 mL.
2) Massa jenis larutan 1,03 gr / mL
3) Kalor jenis larutan = 3,69 J / gr K










G. Diskusi
Termokimia dapat didefinisikan sebagai bagian ilmu kimia yang mempelajari dinamika atau perubahan reaksi kimia dengan mengamati panas/termal nya saja. Salah satu terapan ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari ialah reaksi kimia dalam tubuh kita dimana produksi dari energi-energi yang dibutuhkan atau dikeluarkan untuk semua tugas yang kita lakukan. Pembakaran dari bahan bakar seperti minyak dan batu bara dipakai untuk pembangkit listrik. Bensin yang dibakar dalam mesin mobil akan menghasilkan kekuatan yang menyebabkan mobil berjalan. Bila kita mempunyai kompor gas berarti kita membakar gas metan (komponen utama dari gas alam) yang menghasilkan panas untuk m emas ak. Dan melalui urutan reaksi yang disebut metabolisme, makanan yang dimakan akan menghasilkan energi yang kita perlukan untuk tubuh agar berfungsi.
Hampir semua reaksi kimia selalu ada energi yang diambil atau dikeluarkan. Mari kita periksa terjadinya hal ini dan bagaimana kita mengetahui adanya perubahan energi.

Peristiwa termokimia
Misalkan kita akan melakukan reaksi kimia dalam suatu tempat tertutup sehingga tak ada panas yang dapat keluar atau masuk kedalam campuran reaksi tersebut. Atau reaksi dilakukan sedemikian rupa sehingga energi total tetap sama. Juga misalkan energi potensial dari hasil reaksi lebih rendah dari energi potensial pereaksi sehingga waktu reaksi terjadi ada penurunan energi potensial. Tetapi energi ini tak dapat hilang begitu saja karena energi total (kinetik dan potensial) harus tetap konstan. Sebab itu, bila energi potensialnya turun, maka energi kinetiknya harus naik berarti energi potensial berubah menjadi energi kinetik. Penambahan jumlah energi kinetik akan menyebabkan harga rata-rata energi kinetik dari molekulmolekul naik, yang kita lihat sebagai kenaikan temperatur dari campuran reaksi. Campuran reaksi menjadi panas.
Kebanyakan reaksi kimia tidaklah tertutup dari dunia luar. Bila campuran reaksi menjadi panas seperti digambarkan dibawah, panas dapat mengalir ke sekelilingnya. Setiap perubahan yang dapat melepaskan energi ke sekelilingnya seperti ini disebut perubahan eksoterm. Perhatikan bahwa bila terjadi reaksi eksoterm, temperatur dari campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zat-zat kimia yang bersangkutan akan turun.
Kadang-kadang perubahan kimia terjadi dimana ada kenaikan energi potensial dari zat-zat bersangkutan. Bila hal ini terjadi, maka energi kinetiknya akan turun sehingga temperaturnya juga turun. Bila sistem tidak tertutup di sekelilingnya, panas dapat mengalir ke campuran reaksi dan perubahannya disebut perubahan endoterm. Perhatikan bahwa bila terjadi suatu reaksi endoterm, temperatur dari campuran reaksi akan turun dan energi potensial dari zat-zat yang ikut dalam reaksi akan naik.


H. Simpulan

Reaksi kimia berlangsung dengan menyerap dan melepaskan energi.Jika membebaskan energi disebur reaksi eksoterm, sedangkan yang menyerap energi disebut reaksi endoterm.
Sistem adalah bagian dari alam semesta yang sedang menjadi pusat perhatian, sedangkan lingkungan adalah bagian dari alam semesta yang berinteraksi dengan sistem.
Kalor adalah energi yang berpindah dari sistem ke lingkungan atau sebaliknya karena perbedaan suhu, sehingga q dapat dituliskan q = m x ∆t atau q = C x ∆t




I. Daftar Pustaka

www.crayonpedia.org
www.wikipedia.com
www.google.com
Tim kimia dasar.2009.Penuntun praktikum Kimia dasar I.Surabaya:Unipress

laporan massa zat

A. Judul : Massa zat-zat pada reaksi kimia

B. Tujuan : Mempelajari hokum kekekalan massa

C. Kajian Teori :

Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov-Lavoisier adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses di dalam sistem tersebut(dalam sistem tertutup Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama (tetap/konstan) ). Pernyataan yang umum digunakan untuk menyatakan hukum kekekalan massa adalah massa dapat berubah bentuk tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Untuk suatu proses kimiawi di dalam suatu sistem tertutup, massa dari reaktan harus sama dengan massa produk.
Hukum kekekalan massa digunakan secara luas dalam bidang-bidang seperti kimia, teknik kimia, mekanika, dan dinamika fluida. Berdasarkan ilmu relativitas spesial, kekekalan massa adalah pernyataan dari kekekalan energi. Massa partikel yang tetap dalam suatu sistem ekuivalen dengan energi momentum pusatnya. Pada beberapa peristiwa radiasi, dikatakan bahwa terlihat adanya perubahan massa menjadi energi. Hal ini terjadi ketika suatu benda berubah menjadi energi kinetik/energi potensial dan sebaliknya. Karena massa dan energi berhubungan, dalam suatu sistem yang mendapat/mengeluarkan energi, massa dalam jumlah yang sangat sedikit akan tercipta/hilang dari sistem. Namun demikian, dalam hampir seluruh peristiwa yang melibatkan perubahan energi, hukum kekekalan massa dapat digunakan karena massa yang berubah sangatlah sedikit.
Contoh hukum kekekalan massa
Hukum kekekalan massa dapat terlihat pada reaksi pembentukan hidrogen dan oksigen dari air. Bila hidrogen dan oksigen dibentuk dari 36 g air, maka bila reaksi berlangsung hingga seluruh air habis, akan diperoleh massa campuran produk hidrogen dan oksigen sebesar 36 g. Bila reaksi masih menyisakan air, maka massa campuran hidrogen, oksigen dan air yang tidak bereaksi tetap sebesar 36 g.
Air -> Hidrogen + Oksigen (+ Air)
(36 g) (36 g)
Sejarah Hukum Kekekalan Massa
Hukum kekekalan massa diformulasikan oleh Antoine Lavoisier pada tahun 1789. Oleh karena hasilnya ini, ia sering disebut sebagai bapak kimia modern. Sebelumnya, Mikhail Lomonosov (1748) juga telah mengajukan ide yang serupa dan telah membuktikannya dalam eksperimen. Sebelumnya, kekekalan massa sulit dimengerti karena adanya gaya buoyan atmosfer bumi. Setelah gaya ini dapat dimengerti, hukum kekekalan massa menjadi kunci penting dalam merubah alkemi menjadi kimia modern. Ketika ilmuwan memahami bahwa senyawa tidak pernah hilang ketika diukur, mereka mulai melakukan studi kuantitatif transformasi senyawa. Studi ini membawa kepada ide bahwa semua proses dan transformasi kimia berlangsung dalam jumlah massa tiap elemen tetap.
Kekekalan massa vs. penyimpangan
Ketika energi seperti panas atau cahaya diijinkan masuk ke dalam atau keluar dari sistem, asumsi hukum kekekalan massa tetap dapat digunakan. Hal ini disebabkan massa yang berubah karena adanya perubahan energi sangatlah sedikit. Sebagai contoh adalah perubahan yang terjadi pada peristiwa meledaknya TNT. Satu gram TNT akan melepaskan 4,16 kJ energi ketika diledakkan. Namun demikian, energi yang terdapat dalam satu gram TNT adalah sebesar 90 TJ (kira-kira 20 miliar kali lebih banyak). Dari contoh ini dapat terlihat bahwa massa yang akan hilang karena keluarnya energi dari sistem akan jauh lebih kecil (dan bahkan tidak terukur) dari jumlah energi yang tersimpan dalam massa materi.
Penyimpangan
Penyimpangan hukum kekekalan massa dapat terjadi pada sistem terbuka dengan proses yang melibatkan perubahan energi yang sangat signifikan seperti reaksi nuklir. Salah satu contoh reaksi nuklir yang dapat diamati adalah reaksi pelepasan energi dalam jumlah besar pada bintang. Hubungan antara massa dan energi yang berubah dijelaskan oleh Albert Einstein dengan persamaan E = m.c2. E merupakan jumlah energi yang terlibat, m merupakan jumlah massa yang terlibat dan c merupakan konstanta kecepatan cahaya. Namun, perlu diperhatikan bahwa pada sistem tertutup, karena energi tidak keluar dari sistem, massa dari sistem tidak akan berubah.
Hukum kekekalan menyatakan bahwa properti tertentu yang dapat diukur dari sistem fisika terisolasi tidak berubah selagi sistem berubah. Berikut ini adalah daftar sebagian dari hukum kekekalan yang tidak pernah menunjukan tidak tepat. (Sebenarnya, dalam relativitas umum, energi, momentum, dan momentum sudut tidak kekal karena ada lekukan umum wakturuang "manifold" yang tidak memiliki simetri pembunuhan untuk translasi atau rotasi).
Kimia berhubungan dengan interaksi materi yang dapat melibatkan dua zat atau antara materi dan energi, terutama dalam hubungannya dengan hukum pertama termodinamika. Kimia tradisional melibatkan interaksi antara zat kimia dalam reaksi kimia, yang mengubah satu atau lebih zat menjadi satu atau lebih zat lain. Kadang reaksi ini digerakkan oleh pertimbangan entalpi, seperti ketika dua zat berentalpi tinggi seperti hidrogen dan oksigen elemental bereaksi membentuk air, zat dengan entalpi lebih rendah. Reaksi kimia dapat difasilitasi dengan suatu katalis, yang umumnya merupakan zat kimia lain yang terlibat dalam media reaksi tapi tidak dikonsumsi (contohnya adalah asam sulfat yang mengkatalisasi elektrolisis air) atau fenomena immaterial (seperti radiasi elektromagnet dalam reaksi fotokimia). Kimia tradisional juga menangani analisis zat kimia, baik di dalam maupun di luar suatu reaksi, seperti dalam spektroskopi.
Semua materi normal terdiri dari atom atau komponen-komponen subatom yang membentuk atom; proton, elektron, dan neutron. Atom dapat dikombinasikan untuk menghasilkan bentuk materi yang lebih kompleks seperti ion, molekul, atau kristal. Struktur dunia yang kita jalani sehari-hari dan sifat materi yang berinteraksi dengan kita ditentukan oleh sifat zat-zat kimia dan interaksi antar mereka. Baja lebih keras dari besi karena atom-atomnya terikat dalam struktur kristal yang lebih kaku. Kayu terbakar atau mengalami oksidasi cepat karena ia dapat bereaksi secara spontan dengan oksigen pada suatu reaksi kimia jika berada di atas suatu suhu tertentu.
Suatu 'zat kimia' dapat berupa suatu unsur, senyawa, atau campuran senyawa-senyawa, unsur-unsur, atau senyawa dan unsur. Sebagian besar materi yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu bentuk campuran, misalnya air, aloy, biomassa, dll.
Berdasarkan serangkaian percobaan Antoine Lavoisier tentang pembakaran merkuri membentuk merkuri oksida yang selanjutnya bila dipanaskan kembali akan terurai menghasilkan sejumlah cairan merkuri dan gas oksigen yang jumlahnya sama dengan yang dibutuhkan waktu pembentukan merkuri oksida. Lavoisier mengemukakan bahwa pada reaksi kimia tidak terjadi perubahan massa. Hokum kekekalam massa menyatakan : “ Massa sebelum dan sesudah reaksi adalah sama “ berlaku untuk semua reaksi kimia dengan menghasilkan zat-zat baru.

Massa (berasal dari bahasa Yunani μάζα) adalah suatu sifat fisika dari suatu benda yang digunakan untuk menjelaskan berbagai perilaku objek yang terpantau. Dalam kegunaan sehari-hari, massa biasanya disinonimkan dengn berat. Namun menurut pemahaman ilmiah modern, berat suatu objek diakibatkan oleh interaksi massa dengan medan gravitasi.
Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu menghasilkan antarubahan senyawa kimia. Senyawa ataupun senyawa-senyawa awal yang terlibat dalam reaksi disebut sebagai reaktan. Reaksi kimia biasanya dikarakterisasikan dengan perubahan kimiawi, dan akan menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki ciri-ciri yang berbeda dari reaktan. Secara klasik, reaksi kimia melibatkan perubahan yang melibatkan pergerakan elektron dalam pembentukan dan pemutusan ikatan kimia, walaupun pada dasarnya konsep umum reaksi kimia juga dapat diterapkan pada transformasi partikel-partikel elementer seperti pada reaksi nuklir.
Reaksi-reaksi kimia yang berbeda digunakan bersama dalam sintesis kimia untuk menghasilkan produk senyawa yang diinginkan. Dalam biokimia, sederet reaksi kimia yang dikatalisis oleh enzim membentuk lintasan metabolisme, di mana sintesis dan dekomposisi yang biasanya tidak mungkin terjadi di dalam sel dilakukan.
1.
HUKUM KEKEKALAN MASSA = HUKUM LAVOISIER
"Massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap".
Contoh:
hidrogen + oksigen ® hidrogen oksida
(4g) (32g) (36g)
2.
HUKUM PERBANDINGAN TETAP = HUKUM PROUST
"Perbandingan massa unsur-unsur dalam tiap-tiap senyawa adalah tetap"

Contoh:
a. Pada senyawa NH3 : massa N : massa H
= 1 Ar . N : 3 Ar . H
= 1 (14) : 3 (1) = 14 : 3
b. Pada senyawa SO3 : massa S : massa 0
= 1 Ar . S : 3 Ar . O
= 1 (32) : 3 (16) = 32 : 48 = 2 : 3

Keuntungan dari hukum Proust:
bila diketahui massa suatu senyawa atau massa salah satu unsur yang membentuk senyawa tersebut make massa unsur lainnya dapat diketahui.


3.
HUKUM PERBANDINGAN BERGANDA = HUKUM DALTON
"Bila dua buah unsur dapat membentuk dua atau lebih senyawa untuk massa salah satu unsur yang sama banyaknya maka perbandingan massa unsur kedua akan berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana".

Contoh:

Bila unsur Nitrogen den oksigen disenyawakan dapat terbentuk,
NO dimana massa N : 0 = 14 : 16 = 7 : 8
NO2 dimana massa N : 0 = 14 : 32 = 7 : 16
Untuk massa Nitrogen yang same banyaknya maka perbandingan massa Oksigen pada senyawa NO : NO2 = 8 :16 = 1 : 2
4.
HUKUM-HUKUM GAS
Untuk gas ideal berlaku persamaan : PV = nRT

dimana:
P = tekanan gas (atmosfir)
V = volume gas (liter)
n = mol gas
R = tetapan gas universal = 0.082 lt.atm/mol Kelvin
T = suhu mutlak (Kelvin)

Perubahan-perubahan dari P, V dan T dari keadaan 1 ke keadaan 2 dengan kondisi-kondisi tertentu dicerminkan dengan hukum-hukum berikut:

A.
HUKUM BOYLE
Hukum ini diturunkan dari persamaan keadaan gas ideal dengan
n1 = n2 dan T1 = T2 ; sehingga diperoleh : P1 V1 = P2 V2


B. HUKUM GAY-LUSSAC
"Volume gas-gas yang bereaksi den volume gas-gas hasil reaksi bile diukur pada suhu dan tekanan yang sama, akan berbanding sebagai bilangan bulat den sederhana".

Jadi untuk: P1 = P2 dan T1 = T2 berlaku : V1 / V2 = n1 / n2


Jadi massa gas nitrogen = 14 gram.
C. HUKUM BOYLE-GAY LUSSAC
Hukum ini merupakan perluasan hukum terdahulu den diturukan dengan keadaan harga n = n2 sehingga diperoleh persamaan:
P1 . V1 / T1 = P2 . V2 / T2
D. HUKUM AVOGADRO
"Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama mengandung jumlah mol yang sama. Dari pernyataan ini ditentukan bahwa pada keadaan STP (0o C 1 atm) 1 mol setiap gas volumenya 22.4 liter volume ini disebut sebagai volume molar gas.



D. Rancangan Percobaan :

1. Alat dan bahan
- Labu Erlenmeyer
- Sumbat karet
- Tabung reaksi kecil
- Benang
- Neraca
- CuSO4 0,2 M
- NaOH 0,2 M
- KI 0,2 M
- Pb(NO3)2 0,2 M

2. Langkah – Langkah percobaan

1. masukkan 10 ml larutan NaOH ke dalam Erlenmeyer dan 5 ml larutan CuSO4 kedalam tabung reaksi kecil. Kemudian masukkan tabung reaksi kecil ke dalam Erlenmeyer seperti tampak pada gambar 5.

2. Timbang Erlenmeyer beserta isinya dan catat massanya

3. Miringkan tabung reaksi sehingga ke dua larutam dapat bercampur. Perhatikan apa yang terjadi!

4. Timbang kembali Erlenmeyer beserta isinya dan catat massanya

5. Lakukan percobaan yang sama dengan menggunakan 10 ml larutan KI dan 5 ml larutan Pb(NO3)2

6. Catat semua pengamatan saudara !

Gambar percobaan :





























G. Diskusi

Dalam percobaan kali ini kami tidak mengalami masalah atau ganjalan. Semua percobaan berjalan lancer dan sesuai rencana yang ada. Hanya dalam menimbang zat harus membutuhkan ketelitian dan kesabaran.



H. Simpulan
Massa zat sebelum reaksi akan sama dengan massa zat sesudah bereaksi


I. Jawab Pertanyaan

1. Jelaskan perbedaan antara teori dan hukum ?
teori dalam ilmu pengetahuan berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dan dievaluasi menurut metode ilmiah. Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya.
Hukum adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan. dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana, hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat menuntut pelaku dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik serta cara perwakilan di mana mereka yang akan dipilih. Administratif hukum digunakan untuk meninjau kembali keputusan dari pemerintah, sementara hukum internasional mengatur persoalan antara berdaulat negara dalam kegiatan mulai dari perdagangan lingkungan peraturan atau tindakan militer

2. Gunakan teori Atom Dalton unutuk menjelaskan hokum kekekalan massa !
Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov-Lavoisier adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses di dalam sistem tersebut(dalam sistem tertutup Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama (tetap/konstan) ). Pernyataan yang umum digunakan untuk menyatakan hukum kekekalan massa adalah massa dapat berubah bentuk tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Untuk suatu proses kimiawi di dalam suatu sistem tertutup, massa dari reaktan harus sama dengan massa produk.
John Dalton mengemukakan hipotesa tentang atom berdasarkan Hukum Kekekalan Massa (Lavoisier) dan Hukum Perbandingan Tetap (Proust). Teori yang diusulkan Dalton:
1. Atom merupakan bagian terkecil dari materi yang sudah tidak dapat dibagi lagi.
2. Atom digambarkan sebagai bola pejal yang sangat kecil, suatu unsur memiliki atom-atom yang identik dan berbeda untuk unsur yang berbeda.
3. Atom-atom bergabung membentuk senyawa dengan perbandingan bilangan bulat dan sederhana. Misalnya air terdiri dari atom-atom hidrogen dan atom-atom oksigen Teori atom Dalton tidak dapat menerangkan suatu larutan dapat menghantarkan listrik. Bagaimana mungkin suatu bola pejal dapat menghantarkan listrik, padahal listrik adalah elektron yang bergerak. Berarti ada partikel lain yang dapat menyebabkan terjadinya daya hantar listrik.
4. Senyawa tersusun di dua atom atau lebih.





J.Daftar Pustaka

• Atkins, P.W. Galileo's Finger (Oxford University Press)
• Atkins, P.W. Physical Chemistry (Oxford University Press) ISBN 0-19-879285-9
• Atkins, P.W. et al. Molecular Quantum Mechanics (Oxford University Press)
• Atkins, P.W., Overton,T., Rourke,J., Weller,M. and Armstrong,F. Shriver and Atkins inorganic chemistry(4th edition) 2006(Oxford University Press) ISBN 0-19-926463-5
• Chang, Raymond. Chemistry 6th ed. Boston: James M. Smith, 1998. ISBN 0-07-115221-0.
• Clayden,J., Greeves,N., Warren,S., Wothers,P. Organic Chemistry 2000 (Oxford University Press) ISBN 0-19-850346-6
• McWeeny, R. Coulson's Valence (Oxford Science Publications) ISBN 0-19-855144-4
• Pauling, L. General Chemistry (Dover Publications) ISBN 0-486-65622-5
• Pauling, L. The Nature of the chemical bond (Cornell University Press) ISBN 0-8014-0333-2
• Pauling, L., and Wilson, E. B. Introduction to Quantum Mechanics with Applications to Chemistry (Dover Publications) ISBN 0-486-64871-0
• Smart and Moore Solid State Chemistry: An Introduction (Chapman and Hall) ISBN 0-412-40040-5
• Stephenson, G. Mathematical Methods for Science Students (Longman)ISBN 0-582-44416-0
• Voet and Voet Biochemistry (Wiley) ISBN 0-471-58651-X
• Tim kimia dasar.2009.Penuntun praktikum Kimia dasar I.Surabaya:Unipress

laporan kimia dasar laju reaksi


A. Judul                                    : Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi

B. Tujuan                                 : Menguji Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi   yaitu konsentrasi zat pereaksi, luas permukaan sentuhan, temperature dan katalis.

C. Kajian Teori                        :
            Reaksi- Reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan yang berbeda. Ada Reaksi yang berlangsung secara spontan seperti Reaksi- Reaksi ion, ada reaksi yang berlangsung lambat seperti perkaratan besi dan ada pula Reaksi yang kecepatannya dapat diukur. Pengukuran laju reaksi didasarkan pada kecepatan berkurangnya konsentrasi pereaksi atau bertambahnya konsentrasi hasil reaksi. Umumnya laju reaksi bergantung pada konsentrasi pereaksi, luas permukaan sentuhan, temperature dan katalis.

D. Rancangan Percobaan          :
           
1.      Alat dan bahan
-         Labu ukr 250 ml
-         Stopwatch
-         Gelas ukur 100 ml
-         Pengaduk Gelas
-         Gelas kimia 100 ml
-         Mortal + alu
-         Pipet tetes
-         Tabung reaksi + rak
-         Penjepit
-         Balon
-         HCl 4M, 3M, 2M dan 1M
-         Na2S2O3 1M ; 0,15M
-         KMnO4 0,01M
-         H2SO4 0,5M

2.      Langkah – Langkah percobaan

1.      Pengaruh  konsentrasi pada laju reaksi
Reaksi antara natrium tiosulfat dan asam klorida
v     Tuangkan kedalam masing-masing gelas kimia yang telah ditandai ( A, B, C, D ) 5 ml larutan natrium tiosulfat
v     Kedalam gelas B,C dan D tambahkan berturut-turut 10 ml, 15 ml, dan 25 ml air, guncangkan gelas kimia agar terjadi pencampuran yang sempurna
v     Utuk gelas kimia A tambahkan 5 ml HCl 3M dan kocok sampai homogen. Jalankan stopwatch tepat saat terjadi kekeruhan
v     Lakukan hal yang sama dengan gelas kimia B, C dan D
v     Tuliskan re
v     aksi yang terjadi dan bandingkan kecepatan pembebasan belerang tersebut dan jelaskan hasil-hasil yang telah dicapai!

2.      Pengaruh luas permukaan sentuhan pada laju reaksi
Reaksi antara Kalsium karbonat dan Asam Klorida
v     Isi balon dengan butiran marmer dan pasangkan balon tersebut pada labu yang telah diisi dengan 10 ml HCl 1M. reaksi akan terjadi saat marmer jatuh kedalam asam klorida
v     Ukur waktu yang akan diperlukan saat balon terisi dengan gas karbon dioksida
v     Ulangi langkah tersebut diatas dengan menggunakan marmer yang telah dihaluskan
v     Bandingkan hasil pengukuran waktu yang diperoleh dan jelaskan pengamatan anda serta tuliskan reaksi yang terjadi



3.      Pengaruh temperatur pada laju reaksi
Reaksi antara kalium permanganate dan asam oksalat
v     Encerkan 10 tetes asam oksalat dengan air hingga volumenya 5 ml ( larutan A ). Lakukan hal yang sama untuk larutan kalium permanganat ( larutan B )
v     Siapkan tabung reaksi masukkan 2 tetes larutan A, 2 tetes asam sulfat 0,5M dan 1 tetes larutan B. jalankan stopwatch saat tetes terakhir ditambahkan, ukur waktu yang diperlukan sampai warna larutan hilang
v     Panaskan tabung reaksi yang berisi 2 tetes larutan A dan 2 tetes larutan asam sulfat 0,5M dalam air mendidih selama 10 detik. Kemudian tambahkan 1 tetes larutan B dan catat waktu yang diperlukan sampai warna larutan hilang
v     Tuliskan reaksi yang terjadi dan jelaskan hasil pengamatan yang anada peroleh!
Reaksi ntara Natrium tiosulfat dan Asam Klorida
v     Buat tanda hitam pada sehelai kertas putih dan tempatkanlah tabung reaksi di atas tanda tersebut.
v      Ke dalam tabung reaksi tersebut masukkan 2 tetes larutan Natrium tiosulfat 0,15 M dan 2 tetes larutan Asam Klorida 3 M. Ukur waktu yang diperlukan untuk mengabutkan tanda hitam tersebut.
v     Pada tabung reaksi masukkan 2 tetes larutan Natrium tiosulfat dan panaskan tabung dalam air mendidih selama 10 detik, kemudian letakkan diatas tanda hitam tadi dan tambahkan 2 tetes asam klorida, catat waktu yang diperlukan untuk menghilang tanda hitam tersebut.
v     Catat semua hasil yang anda peroleh dan jelaskan!
                  4 Pengaruh Katalis Pada Laju Reaksi

v     Ambil 10 tetes larutan KMnO4 dan encerkan dengan air sampai volumenya 10 ml.
v     Siapkan tabung reaksi dan  masukkan larutan berikut  2 tetes asam oksalat + 2 tetes  asam sulfat + 1 tetes larutan encer KMnO4. jalankan stopwatch saat penambahan terakhir dan hentikan pada saat warna kmno4 hilang. Catat waktu yang diperlukan!
v     Teruskan penambahan tetesan larutan encer kmno4 sampai warna permanganate menghilang segera.
v     Ke dalanm tabung reaksi yang lain masukkan berturut-turut 2 tetes asam oksalat, 2 tetes asam sulfat dan 1 tetes mangan (II) sulfat. Terakhir tambahkan 1 tetes larutan encer kmno4 dan jalankan stopwatch tepat pada saat penambahan kmno4 dan hentikan pada saat warna permanganat hilang. Teruskan penambahan tetesan kmno4sampai warna permanganat menghilang seger.
v     Buat grafik antara jumlah tetesan permanganat terhadap waktu.

Gambar percobaan       :
















G. Diskusi

Luas permukaan sentuh

Luas permukaan sentuh memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi, sebab semakin besar luas permukaan bidang sentuh antar partikel, maka tumbukan yang terjadi semakin banyak, sehingga menyebabkan laju reaksi semakin cepat. Begitu juga, apabila semakin kecil luas permukaan bidang sentuh, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil. Karakteristik kepingan yang direaksikan juga turut berpengaruh, yaitu semakin halus kepingan itu, maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi ; sedangkan semakin kasar kepingan itu, maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi.

KONSENTRASI
Dari berbagai percobaan menunjukkan bahwa makin besar konsentrasi zat-zat yang bereaksi makin cepat reaksinya berlangsung. Makin besar konsentrasi makin banyak zat-zat yang bereaksi sehingga makinbesar kemungkinan terjadinya tumbukan dengan demikian makin besar pula kemungkinan terjadinya reaksi.

SUHU
Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu dinaikkan. Dengan menaikkan suhu maka energi kinetik molekul-molekul zat yang bereaksi akan bertambah sehingga akan lebih banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea. Dengan demikian lebih banyak molekul yang dapat mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain kecepatan reaksi menjadi lebih besar.



KATALISATOR
Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud memperbesar kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi.
Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru. Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi dapat berlangsung lebih cepat.

H. Simpulan
o       Semakin luas permukaan zat, semakin kecil ukuran partikel zat. Jadi semakin kecil ukuran partikel zat, reaksi pun akan semakin cepat.
o       Katalis adalah zat yang dapat mempercepat laju reaksi.
o       Laju atau kecepatan didefinisikan sebagai jumlah suatu perubahan tiap satuan waktu. Satuan waktu dapat berupa detik, menit, jam, hari atau tahun

I.        Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan
1.      Jelaskan mengapa pada percobaan pengaruh temperature pada laju reaksi warna larutan KMnO4 tidak nampak seiring bertambahnya waktu?
Karena KMnO4 terurai menjadi K dan MnO4, K terikat dengan reaksi yang terjadi dan MnO4 berdiri sendiri sehingga menyebabkan warna ungunya memudar.

2.      Gas apa yang terbentuk pada percobaan reaksi antara kalsium karbonat dan Asam Klorida? Tuliskan persamaan reaksinya!
Dengan mendidihkan, endapan menjadi berbentuk kristal. Endapan larut dalam air yang mengandung asam karbonat berlebih (misalnya, air soda yang baru dibuat), karena pembentukan kalsium hidrogen karbonat yagn larut:
Dengan mendidihkan, endapan muncul lagi, karena karbon dioksida keluar selama proses itu sehingga reaksi berlangsung ke arah kiri. Ion-ion barium dan strotium bereaksi serupa.Endapan larut dalam basa, bahkan dalam asam asetat.
Kalsium karbonat larut sedikit dalam larutan garam-garam amonium dari asam kuat.
KCO3 + HCl à KCl + HCO3
3.      Apakah fungsi dari balon? Dapatkah diganti dengan yang lain jelaskan!
Sebagai penampung gas hasil reaksi antara kalsium karbonat dan asam klorida. Bisa, diganti dengan kantong plastic, tetapi harus rapat saat penutupannya  agar gas yang dihasilkan dapat tertampung secara maksimal.








J. Daftar Pustaka
         Petrucci, Ralph. H, 1992. Kimia Dasar, Prinsip dan Terapan Modern. Terjemahan Suminar. Jakarta: Erlangga
         Brady, James E. dan J.R. Holum. 1988. Fundamentals of Chemistry. Edisi 3, New York: Jon Willey & Sons, Inc.
         Tim kimia dasar.2009.Penuntun praktikum kimia dasar I.Surabaya : Unipres